[ Kamis, 10 Juli 2008 ]
JAKARTA – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco mengonfirmasi kebenaran berita meninggalnya Pungkas Tri Baruno, 20, anggota tim pendaki puncak Gunung McKinley di Anchorage, Alaska. Aktivis kelahiran 11 April 1988 itu berpredikat penegak laksana, anggota Tim Ekspedisi Tunas Indonesia dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Total anggota tim ekspedisi Tunas Indonesia yang mendaki gunung tertinggi di Amerika Utara itu empat orang. Sesuai dengan jadwal, mestinya tim ekspedisi sudah terbang kembali ke Jakarta pada 5 Juli.
Konfirmasi meninggalnya Pungkas diterima dari Park Rangers dan pihak swasta penyedia jasa pemandu pendakian gunung (mountain trip). Almarhum meninggal dunia pada pukul 09.40 PM (7 Juli 2008) waktu Alaska atau 12.40 WIB (8 Juli 2008) dengan disaksikan pemandu jasa pendakian dan anggota tim.
Sebelum turun dari puncak Gunung McKinley, mahasiswa Jurusan Desain Interior Universitas Mercu Buana itu berhasil menancapkan Sang Saka Merah Putih. Dalam perjalanan turun, Pungkas mengeluh pusing dan tidak sadarkan diri. Pemberian pertolongan pertama melalui bantuan napas buatan (cardio pulmonary resuscitation-CPR) tidak berhasil.
Hingga Selasa (8/7), upaya evakuasi jenazah dari lokasi kejadian -sekitar 17.400 kaki atau kurang lebih 5.000 meter di atas permukaan laut- baik melalui prosedur biasa (jalan darat) maupun helikopter masih sulit dilakukan karena buruknya cuaca. Upaya evakuasi jenazah kembali dilakukan kemarin (9/7).
Jubir Deplu Teuku Faizasyah menyatakan, KJRI San Francisco telah mengoordinasikan langkah-langkah evakuasi untuk membawa jenazah ke base camp terdekat (Talkeetna) yang berjarak 2 jam dari Kota Anchorage. ”Di Talkeetna, jenazah disemayamkan dan divisum oleh tim dokter untuk memastikan penyebab kematian,” paparnya di Jakarta kemarin (9/7).
Untuk membantu pemulangan jenazah ke Indonesia, KJRI San Francisco mengirim pejabat konsuler. Dalam proses pemulangan, KJRI San Francisco mendapatkan bantuan dari komunitas Indonesia di Alaska.
Ketua Kwartir Gerakan Pramuka Cabang Jakarta Barat A. Rahman mengemukakan, Pungkas layak mendapatkan penghargaan pada HUT Pramuka 14 Agustus. ”Kalau bisa, nanti yang menyerahkan langsung Presiden SBY,” paparnya.
Menurut Rahman, Pungkas berangkat dengan persiapan matang. Dia menjalani latihan fisik dan simulasi intensif tiga bulan sebelum keberangkatan. Adaptasi cuaca dingin dan latihan pendakian dengan kondisi oksigen yang tipis berlangsung selama tujuh hari penuh di bawah bimbingan instruktur ahli juga dilakukan saat tiba di Alaska. ”Tidak mungkin berangkat kalau persiapannya kurang,” katanya.
Sekitar 16 tahun lalu, Indonesia juga kehilangan dua pendaki di Amerika Selatan. Mereka adalah Norman Edwin dan Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Keduanya meninggal saat mendaki puncak Aconcagua (6.969 m) di Argentina pada Maret 1992. Pendakian ini merupakan rangkaian dari ekspedisi tujuh puncak dunia yang dilakukan Mapala UI. (iw/oki)
sumber : jawapos.com





